PEMBELAJARAN SAINS UNTUK ANAK USIA DINI

  1. Ruang Lingkup Program Pembelajaran Sains Untuk Anak Usia Dini

Ruang lingkup program pengembangan pembelajaran sains sesungguhnya tercermin pada pengertian dan batasan-batasan yang terkandung dalam sains itu sendiri. Ruang lingkup pembelajaran pada anak usia dini dapat dianalisis berdasarkan wilayah garapan dan berdasarkan bidang pengembangan atau kemampuan. Dalam ruang lingkup wilayah  garapan pembelajaran sains meliputi dua dimensi besar, pertama dilihat dari isi bahan kajian dan kedua dilihat dari bidang perkembangan atau kemampuan yang akan dicapai. Deskripsi pembelajaran sains dilihat dari isi bahan kajian meliputi materi atau disiplin yang terkait dengan bumi dan jagat raya (ilmu bumi), ilmu-ilmu hayati (biologi), serta bidang kajian fisika dan kimia (Abruscato,2001).

 

Makna dari skema tersebut diatas, selain memiliki pengertian pembagian ruang lingkup program pengembangan sains, juga memberi makna bahwa semua program pengembangan pembelajaran sains yang sifatnya terpadu harus mampu meramu berbagai bidang pengembangan ke dalam satu perencanaan yang utuh dan sinergis.

Ruang lingkup program pengembangan pembelajaran sains apabila ditinjau dari bidang pengembangan  atau kemampuan yang harus dicapai, maka terdapat tiga dimensi yang semestinya dikembangkan bagi anak usia dini yaitu meliputi kemampuan terkait dengan penguasaan produk sains, penguasaan proses sains dan penguasaan sikap-sikap sains (jiwa ilmuan).

Arah pengambangan program pembelajaran sains sebagai  suatu proses di tujukan pada perencanaan dan aktifitas sains yang dapat membantu anak dalam mengusai keterampilan yang terkait dengan cara pengenalan dan perolehan sains yang benar.

RUANG LINGKUP PROGRAM PEMBELAJARAN SAINS UNTUK ANAK USIA DINI

Dimensi Ruang Lingkup

Kelompok Bahan Kajian/ Bidang Pengembangan

Topik Inti/Kemampuan Bagi Anak Usia Dini

Berdasarkan dimensi isi bahan kajian

Bumu dan jagat raya (ilmu bumi)

  1. Pengetahuan tentang binatang
  2. Kajian tentang tanah
  3. Kajian tentang cuaca atau musim

 

Ilmu ilmu hayati biologi

  1. Studi tentang tumbuh tumbuhan
  2. Studi tentang binatang
  3. Studi tentang hubungan antara aspek aspek kehidupan degan lingkungannya

 

Bidang kajian sisika-kimia

  1. Studi tentang daya
  2. Studi tentang energy
  3. Studi tentang rangkaian dan reaksi

Berdasarkan bidang pengembangan

Penguasaan produk sains

  1. Memahami fakta fakta
  2. Memahami konsep
  3. Memahami prinsip
  4. Memahai hokum
  5. Memahami teori

 

Penguasaan proses sains

Menguasai keterampilan cara pengenalan dan perolehan sains meliputi : observasi, klasifikasi, meramalkan, menyimpulkan, penggunaan alat dan pengukuran, merencanakan penelitian, menerapkan

 

 

Penguasaan sikap sains

  1. Rasa tanggung jawab
  2. Rasa ingin tahu
  3. Disiplin
  4. Tekun
  5. Jujur
  6. Terbuka

 

  1. MODEL PENGEMBANGAN PROGRAM PEMBELAJARAN SAINS AUD

Terdapat beberapa model pengembangan program pemelajaran atau kurikulum yang dapat dijadikan pedoman dalam pengembangan program pembelajaran sains pada anak usia dini. Hasil kejadin selama ini secara umum terdapat tiga pendekatan utama dalam urikulum pengembangan sains pada jenjang pendidikan usia dini, yaitu :

  1. Pendekatan yang bersifat situasional, maksudnya pembahasan tentang sains akan dielaborasi (diulas) secara luas dan mendalam jika dalam pembelajaran muncul  ‘fenomena’ yang terkait dengan tuntutan pembahasan konsep dan pengalaman sains pada sasaran belajar. Jadi pendekatan ini sangat ditentukan oleh muncul atau tidaknya konteks sains dalam pembelajaran yang sedang dilakukan.  Jika muncul, maka pembelajaran akan segera disesuaikan dengan dan diarahkan pada pembahasan sains; tetapi jika tidak muncul fenomena sains, maka pembelajaran akan dilanjutkan sebagaimana mestinya. Dengan kata lain pendekatan ini dapat dikatakan sebagai program pengembangan pembelajaran sains yang berdasarkan situasi spontanitas (spontanous based treatment) sebagai titik awal atau tantangan awal atau tantangan awal (exelent starting point) untuk menjelaskan sains pada anak, Harlen dan Jelly (1989) dan Dawson (2004) menyebutnya sebagai pendekatan yang bersifat sensitif (sensitivity approach ) yaitu strategi pengembangan pembelajaran sains yang didasarkan atas kepekaan terhadap situasi kelas atau pembelajaran yang terjadi .
  2. Pendekatan yang bersifat terpisah atau  tersendiri. Maksudnya   program  pengembangan pembelajaran sains di kemas secara khusus dan tersendiri. Pembelajaran sains di berikan waktu tersendiri sebagai mana bidang pengembangan lainya dalam pendidikan anak usia dini, pembelajaran sains di setting (dirancang ) secara khusus sesuai dengan karakteristik pembelajaran sains yang khas serta karakteristik anak yang sesuai (relevant) dengan tuntutan penguasaan sains.  Jadi pengembangan pembelajaran sains bersifat regular karna memiliki waktu dan tempat khusus dalam program (kurikulum) pendidikan usia ndini yang ada. Program sains tidak tergantung program lainya; walaupun tetap prinsip-prinsip pengembangannya harus mengacu pada landasan pengembangan program (kurikulum) pada umumnya, misalnya saja prinsip keluwesan (flexibility).

Jadi program pengembangan pembelajaran sains sederajat dan berdampingan dengan program pengembangan lainnya dalam sistem pendidikan yang ada. Harlen dan Jelly dalam Dawson (2004) untuk model pengembangan kurikulum pembelajaran  sains seperti ini, menyebutnya dengan istilah separate lessons, maksudnya adalah program sain direncanakan secara mandiri dan terpisah, dengan aloksi waktu dan jam belajar tersendiri

  1. Pendekatan yang bersifat merger atau terintegrasi dengan disiplin lain tau bidang pengembangan lain. Dalam pendektan ini,  program sains dikembangkan dengan cara digabungkan secara formal dan sistematis dengan bidang pengembangan atau disiplin ilmu lainnya. Sehingga dalam program, pengembangan pembelajaran sains merupakan bagian dari suatu program kurikulum ang lebih luas dan terpadu sifatnya. Jadi  dalam pengorganisasiannya, para pengembang program harus mampu melihat secar seksama karakteristik dari setiap bidang yang diintegrasikan dengan bidang sains tersebut. Disiplin atau bidang pengembangan lain yang diintegrasikan dapat bersifat terbatas, maupun terbuka secra luas dan tanpa dibatasi secara khusus. Contoh pengintegrasian program sains yang dilihat berdasarkan isi bahan kajian misalkan: penggabungan sains dan matematika , penggabungan sains dan sejarah, penggabungan  sains dan olahraga, dan sebagainya.

 

 

SKEMA PEGEMBANGAN PROGRAM PEMBELAJARAN SAINS

 

 

Dari gambar diatas,  dapat disimpulkn bahwa guru/tutor PAUD sebagai pengembang program sains harus mampu mengintegrasikan aspek anak dengan aspek sains secara harmonis .

Untuk itu setiap guru sains hendaklah bekerja secara seksama pda saat pembuatan program, karena program yang dibuatnya akan menentukan berhasil atau tidaknya pelaksanaan pembelajaran sains yang dilakukannya.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh para guru/tutor sains ketika secara umum, diantaranya

  • sebelum memulai pengembangan program pembelajaran hendaklah guru/tutor sudah meyakinkan diri  bahwa dia sudah memahami perkembangan dan karakteristik anak secara memadai
  • sebelum memulai pengembangan program pembelajaran hendaklah guru/tutor sudah meyakinkan diri  bahwa dia sudah memahami ruang lingkup program sains, baik dari dimensi isi bahan kajian maupun dari dimensi pengembangan kemampuan anak
  • jika rambu-rambu 1 dan atau 2, tidak terpenuhi hendaklah dalam pengembangan program pembelajaran sains, guru/tutor melakukannya secara kelompok ( teamwork). Bahkan jika diperlukan dan memungkinkan tim mengundang ahli khusus atau konsultan, sehingga guru/tutor dan tim dapat bekerja lebih optimal.
  • bentuk dan wujud program sains yang dapat dihasilkan oleh guru/tutor  dan atau tim, dapat berupa program satu tahun, semester, catur wulan, bulan, minggu, atau hari atau juga insidental. Jadi dapat disesuaikan dengan kebutuhan lembaga dan kepentingan program lain secara keseluruhan,
  • sebaiknya diinventarisir seluruh yang dapat memberikan kontribusi (sumbangan) terhadap pengembangan pembelajaran sains dimaksud, sehingga program sains mendapatkan dukungan semua fihak (total  environment)
  • kemaslah isi program yang memperhatikan prinsip-prinsip keseimbangan, keliwesan , kesinambungan, kebermaknaan, dan fungsionalitas. Sehingga program yang dihasilkan lebih adaftif terhadap berbagai perubahan kondisi lingkungan belajar , apalagi beberapa karakteristik anak usia dini menunjukkan sifat yang amat situasional .

DAFTAR PUSTAKA

Ali, nugraha (2005), pengmbangan pebelajaran sains, Jakarta

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s